InfoSAWIT SUMATERA, JAKARTA — Pertemuan tahunan General Assembly (GA) Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) kali ini menjadi ruang baru bagi suara yang selama ini nyaris tak terdengar: para petani sawit swadaya. Dalam forum yang biasanya diwarnai jargon keberlanjutan dan laporan teknokratis dari perusahaan serta lembaga internasional, tahun ini panggung RSPO berubah arah. Sekitar 50 petani, dengan 32 di antaranya berasal dari Indonesia, hadir bukan sekadar untuk mendengar, melainkan berbicara—menuntut kejelasan komitmen para pembeli (buyer) terhadap produk sawit bersertifikat RSPO.
Lebih dari sepuluh tahun perjalanan sertifikasi RSPO telah ditempuh petani kecil. Namun kini, mereka menghadapi kenyataan bahwa semangat di atas kertas tidak selalu sejalan dengan praktik di pasar. Ardiansyah dari Jambi dan Tri Arianto dari Kalimantan Barat, dua sosok yang aktif di gerakan petani sawit berkelanjutan, menyuarakan keresahan yang sama: menurunnya minat buyer membeli kredit RSPO. Ironis, sebab di saat jumlah kelompok tani bersertifikat terus bertambah, pasar justru tampak enggan menyerap hasil kerja keras mereka.
Sistem kredit RSPO sejatinya diciptakan untuk memberi nilai tambah bagi petani, bukan sekadar simbol keberlanjutan. Melalui platform PRISMA, petani bisa menjual “nilai hijau” dari kebunnya kepada perusahaan di berbagai negara. Ketika minat pembeli melemah, sistem ini kehilangan makna. Tidak ada transaksi berarti tidak ada insentif, dan tanpa insentif, semangat menjaga standar keberlanjutan pun memudar.
BACA JUGA: RSPO Gandeng Hongshan Zoo: Diplomasi Sawit Berkelanjutan dari Kuala Lumpur ke Nanjing
Beban yang dipikul petani dalam mempertahankan sertifikasi RSPO tidaklah ringan. Audit tahunan, pelatihan, perbaikan praktik budidaya, hingga pendampingan teknis membutuhkan biaya dan tenaga. Semua itu dilakukan demi menjaga kredibilitas sertifikasi dan komitmen terhadap lingkungan. Namun ketika pasar berhenti memberi dukungan, pertanyaan besar pun muncul: untuk siapa sebenarnya petani berjuang mempertahankan sertifikat itu?
RSPO selalu menempatkan dirinya sebagai wadah multipihak yang menegakkan keseimbangan antara aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Namun keseimbangan itu mustahil tercapai jika salah satu pihak berhenti melangkah. Petani telah berbenah—mengubah cara tanam, menanam pohon pelindung, hingga mengelola limbah dengan benar. Kini, giliran buyer membuktikan bahwa mereka juga bagian dari solusi, bukan sekadar pengguna label hijau untuk kepentingan pasar.
Dalam forum Roundtable (RT) RSPO 2025 di Kuala Lumpur, tema besar “Building the Next 20: Sustainability in Action” seharusnya menjadi refleksi kolektif. Setelah dua dekade berjalan, RSPO tak lagi cukup hanya berbicara tentang janji keberlanjutan. Dunia menunggu bukti. Petani telah membayar harga untuk perubahan itu—dengan tenaga, waktu, dan kepercayaan. Sementara buyer, dengan kekuatan pasar yang mereka miliki, justru tampak ragu untuk menjaga keseimbangan dalam rantai nilai.
BACA JUGA: RT2025: Diplomasi Sawit Berkelanjutan, Wamenlu RI Dorong Keadilan dalam Regulasi EUDR
Krisis kepercayaan inilah yang kini membayangi sistem keberlanjutan global. Jika petani kecil merasa tak lagi mendapat manfaat, maka legitimasi seluruh ekosistem RSPO pun terancam. Sebab tanpa petani, tidak ada pasokan yang benar-benar berkelanjutan. Keberlanjutan sejati bukan milik korporasi besar semata, melainkan tumbuh dari akar rumput—dari para petani yang menjaga kebun dengan penuh komitmen di tengah keterbatasan.
Dalam konteks itu, buyer tidak bisa lagi bersembunyi di balik klaim keberlanjutan di kemasan produk. Komitmen mereka harus dibuktikan melalui dukungan nyata—terutama dalam pembelian kredit RSPO dari petani. Ini bukan soal kemurahan hati, melainkan bentuk tanggung jawab moral dan ekonomi terhadap sistem yang mereka klaim ingin jaga.
Pertemuan GA RSPO tahun ini menjadi momentum penting: ujian bagi konsistensi semua pihak. Petani sudah berbicara, bukan dengan amarah, tetapi dengan harapan agar kesepakatan yang pernah dibuat bisa dijalankan secara nyata. Sebab tanpa dukungan pasar yang hidup, sertifikasi hanya akan menjadi dokumen tanpa nilai.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Tertekan, Petani Harap Evaluasi Formula Penetapan Harga
Keberlanjutan tidak akan pernah menjadi kenyataan jika hanya satu pihak yang bekerja. Petani telah melangkah sejauh yang mereka bisa. Kini giliran buyer menentukan: apakah mereka siap melanjutkan perjalanan menuju keberlanjutan sejati, atau berhenti di titik komitmen yang tinggal nama. (*)
Disclaimer: Artikel merupakan pendapat pribadi, dan sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis serta tidak ada kaitannya dengan InfoSAWIT.





























