InfoSAWIT SUMAETRA, JAKARTA – Di saat sebagian besar mata tertuju pada melemahnya nilai tukar rupiah dan tekanan harga kebutuhan pokok, secercah kabar baik datang dari dunia perkebunan: ekspor sawit Indonesia melonjak tajam di bulan Februari 2025.
Dari balik angka-angka yang biasanya hanya menghiasi laporan ekonomi, tersembunyi cerita tentang bagaimana kelapa sawit—komoditas yang kerap jadi bahan kontroversi—berperan penting menjaga kesehatan devisa negara.
“Februari mencatatkan ekspor sawit sebesar 2,803 juta ton, naik drastis dibanding Januari yang hanya 1,960 juta ton,” kata Mukti Sardjono, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT Sumatera, Kamis (1/5/2025). Ia juga menambakan, nilai ekspornya pun terkerek hingga 40%, menjadi US$ 3,192 juta atau sekitar Rp52 triliun.
BACA JUGA: Dikuasai Kembali Negara, 47 Ribu Hektare Kebun Sawit Dikelola Agrinas
Kenaikan ekspor ini tak lepas dari dua faktor utama: permintaan pasar global yang menguat dan harga sawit yang sedikit membaik di pasar internasional. India, Pakistan, Bangladesh, dan China tercatat sebagai pasar yang paling agresif menyerap produk sawit Indonesia bulan lalu. Ekspor ke India bahkan melonjak 245% hanya dalam waktu sebulan.
“Saya kira ini membuktikan betapa sawit masih sangat dibutuhkan di banyak negara, terutama untuk pangan dan energi,” ujar Mukti.
Kenaikan ekspor ini bukan hanya tentang angka. Ia adalah nafas bagi para pelaku usaha sawit, mulai dari pekebun kecil hingga korporasi, yang berjuang mempertahankan produksi di tengah cuaca tak menentu dan ketatnya regulasi global.
Di sisi lain, stok sawit dalam negeri juga menyusut cukup besar—turun 753 ribu ton dari bulan sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa produksi terserap habis oleh pasar, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Pasar biodiesel dalam negeri juga tak kalah kuat, ikut menyumbang penyerapan sawit secara signifikan.
Namun, tidak semua kabar menggembirakan. Ekspor oleokimia turun 6,2%, dan beberapa negara tujuan seperti Rusia dan Amerika Serikat menunjukkan penurunan permintaan. Meski begitu, lonjakan dari negara-negara Asia Selatan dan Timur telah menutupi penurunan itu secara keseluruhan.
Dalam dinamika ekonomi global yang serba cepat dan tak pasti, kelapa sawit kembali membuktikan dirinya: bukan hanya sebagai sumber penghidupan bagi jutaan petani, tapi juga sebagai penopang keuangan negara.
BACA JUGA: Mendatangkan Serangga Penyerbuk Sawit dan Ketatnya Karantina Barantin
Di balik cerita ekspor Februari, terselip harapan bahwa sektor ini bisa terus tumbuh dengan tetap memperhatikan aspek keberlanjutan, lingkungan, dan kesejahteraan petani di akar rumput. Karena bagi Indonesia, sawit bukan sekadar komoditas. Ia adalah denyut nadi ekonomi yang tak boleh berhenti. (T2)



































